Rabu, 08 Juli 2015

Pria Berkacamata

           Dia, ya dia pria muda berkacamata yang ku jumpai beberapa tahun silam. Tahun dimana aku masih berstatus salah seorang murid sekolah menengah pertama, tahun dimana usiaku masih sangat muda, tahun dimana ia masih menggunakan seragam putih abu-abu untuk pertama kalinya, tahun dimana kepribadianku masih belum seperti sekarang, dan tahun dimana kali pertama mata kami saling bertemu satu sama lain. Sekali, dua kali aku menatap dari kejauhan, tidak, aku menatap secara diam - diam. Tak ada yang tahu. Sejak awal perjumpaan. sejak itu pula aku terpesona oleh kharismanya. Harus kuakui aku mengaguminya.
          Kharismanya yang kuat, cara bicaranya yang santun, nada suaranya yang lembut, hingga perilakunya yang sopan. Pribadinya membuatku kagum. Sebagai seorang laki - laki, dia layak disebut lelaki idaman. Bagaimana tidak, dia baik hati, pintar dan juga sholeh.
           Perjumpaan tak terlupakan, hingga kini tahun ketiga aku duduk di bangku menengah atas dan tahun kedua ia menjadi salah satu mahasiswa di daerah Depok. Berarti sudah memasuki tahun keempat aku mengaguminya. Tak pernah ada tegur sapa diantara kami hingga detik ini. Tak pernah ada sepatah kata pun terucap dari bibir keduanya. Menatap dari kejauhan cara terbaik yang dapat dilakukan. Terkadang ketika ia tengah rehat dari aktivitas kampusnya dan ketika aku memiliki waktu kosong, aku masih menatapnya dari kejauhan seperti dulu. Menatap dari balik punggungnya. Tatapan diam - diam yang masih saja berlanjut. Entah, entah sampai kapan aku akan mengaguminya secara diam - diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar