Dia, ya dia
pria muda berkacamata yang ku jumpai beberapa tahun silam. Tahun dimana aku
masih berstatus salah seorang murid sekolah menengah pertama, tahun dimana
usiaku masih sangat muda, tahun dimana ia masih menggunakan seragam putih
abu-abu untuk pertama kalinya, tahun dimana kepribadianku masih belum seperti
sekarang, dan tahun dimana kali pertama mata kami saling bertemu satu sama
lain. Sekali, dua kali aku menatap dari kejauhan, tidak, aku menatap secara diam
- diam. Tak ada yang tahu. Sejak awal perjumpaan. sejak itu pula aku terpesona
oleh kharismanya. Harus kuakui aku mengaguminya.
Kharismanya yang
kuat, cara bicaranya yang santun, nada suaranya yang lembut, hingga perilakunya
yang sopan. Pribadinya membuatku kagum. Sebagai seorang laki - laki, dia layak
disebut lelaki idaman. Bagaimana tidak, dia baik hati, pintar dan juga sholeh.
Perjumpaan
tak terlupakan, hingga kini tahun ketiga aku duduk di bangku menengah atas dan
tahun kedua ia menjadi salah satu mahasiswa di daerah Depok. Berarti sudah
memasuki tahun keempat aku mengaguminya. Tak pernah ada tegur sapa diantara
kami hingga detik ini. Tak pernah ada sepatah kata pun terucap dari bibir
keduanya. Menatap dari kejauhan cara terbaik yang dapat dilakukan. Terkadang
ketika ia tengah rehat dari aktivitas kampusnya dan ketika aku memiliki waktu
kosong, aku masih menatapnya dari kejauhan seperti dulu. Menatap dari balik
punggungnya. Tatapan diam - diam yang masih saja berlanjut. Entah, entah sampai
kapan aku akan mengaguminya secara diam - diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar