Anindya Rizqi Room's
Annyeong~
Rabu, 08 Juli 2015
Rabu, 01 Juli 2015
MORE THEN WORDS - EXTREME
Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
'Cause I'd already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you
More than words
Now that I've tried to talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes
And just reach out your hands and touch me
Hold me close don't ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
Then you wouldn't have to say that you love me
'Cause I'd already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you
More than words
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
'Cause I'd already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you
More than words
Now that I've tried to talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes
And just reach out your hands and touch me
Hold me close don't ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
Then you wouldn't have to say that you love me
'Cause I'd already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you
More than words
Kamis, 11 September 2014
Kenangan Terindah
Oleh : Anindya Rizqi Setyacahyani
Hujan diluar membuat
ku ingin berada
dikamar saja, 10 menit
berselang aku terpaku
pada satu objek
disudut kamar. Tiba – tiba
aku ingin membuka
kembali kenangan yang
telah kusimpan rapih
pada sebuah kotak
berukuran sedang dibawah
meja belajar. Ku
ingat kembali peristiwa
yang terjadi 7
tahun lalu. Masih
kuingat dengan jelas
di otak akan
peristiwa itu.
***
Angin berhembus kencang,
menerpa dua tubuh
mungil yang sedang
berbaring di atas
rumput sambil memejamkan
mata. Suara kicauan
burung kecil turut
terdengar merdu menambah
suasana damai. Cuaca yang
bersahabat seolah alam
mendukung bila aku
harus tetap berada
di tempat ini,
yaa tempat yang
jauh dari keramaian,
tempat yang hanya
aku dan sahabatku
yang tahu. Kesamaan
hobi yang sama
yang membuat kami
berada ditempat ini. Sambil ku
ingat awal kami
menemukan tempat seindah
ini, berawal dari
keisengan aku dan
sahabatku, Septi. Kami
yang sedang berjalan – jalan mengelilingi lingkungan
rumah, kami bertemu
dengan teman sekolah
kami. Beni dan
Indra namanya. Singkat
cerita kami yang
sudah akrab dan
memiliki hobi berpetualang
sepakat untuk berpetualang
bersama. Layaknya backpackers, kami
menyusuri jalan kesana
kemari hingga sampailah
kami pada satu
tempat yang jauh
dari keramaian dan
sangat tenang. Kami
sepakat menjadikan tempat
itu sebagai tempat
persahabatan.
“Udah hampir sebulan
sejak persiapan UKK kita ngga
kesini lagi, kurasa
aku ingin menghabiskan
waktu liburan lebih
banyak disini. Liburan
sekolah juga kurang
seminggu lagi.” ucap
Septi memecah kesunyian.
“Ya aku juga
begitu. Aku sangat
rindu tempat ini.
Rindu menghabiskan waktu
ditempat ini bersama
kalian.” jawabku sambil membuka
mata.
Lama aku dan
Septi terdiam. Sampai
kudengar derap langkah
kaki seseorang mendekat.
Tak lama munculah
dua sosok anak
laki – laki dari kejauhan
sambil menggendong tas.
“Akhirnya
datang juga anaknya.”
celetuk ku.
“Lama deh, lumutan
nih nunggunya.” Septi
bergumam.
“Maaf maaf. Tapi
tenang kita punya
sesuatu buat kalian.”
ucap Beni sambil
membuka tas miliknya.
“Tau, kita kesini
emang telat tapi
kita nggak ngecewain
kalian juga.” susul
Indra.
“Nih oleh –
oleh buat kalian siapa
tau pada kehausan
sama kelaperan nungguin
kita.” Beni menyodorkan
minuman yang dibawanya.
“Nih tadi kita
mampir beli ini
itu buat kalian.
Kita juga mikir
kalo udah disini
pada aus sama
laper mau jajan
kemana.“ Indra menyodorkan
makanan ringan yang
dia bawa. “Makanya
sebelum kesini kita
beli dulu.” sambung
Beni.
“Iya iya makasih
teman – temanku. Kalian baik
sekali.” jawab Septi.
“Kalo jahat mah
udah kita ceburin
ke danau dari
kemarin – kemarin.” sempal Beni. Disusul
tawa Indra.
“Halah danaunya kan cetek. Diceburin
juga ngga bakal
tenggelam.” ketus Septi.
“Lah kan niatnya
cuma buat ngisengin
biar basah, bukan
mau tenggelemin anak
orang.” gumam Indra.
“Udahlah, ini kenapa
malah ributin hal
ngga penting.” Gerutuku.
“Oke oke kita
udah disini semua,
jadi ada apa
kita disuruh ngumpul
kesini?” Indra bertanya – tanya.
“Ya cuma mau
ngumpul bareng lagi
aja. Udah lama
kan kita ngga
kesini, ya nggak
nin.” Jawab Septi
seraya menyenggol tangan
ku menyadarkan dari
lamunanku.
“Eh iya kurang
lebih begitulah. Lagian
anggap aja refreshing
daripada dirumah terus
emang pada ngga
bosen?” ucapku dengan
raut wajah datar.
“Oh kirain ada
apa.” tukas Indra.
Beni sedari tadi
sibuk dengan layar
laptopnya. Entah apa
yang sedang ia
lihat. “Eh eh
hari ini kan
tepat setahun kita
menemukan tempat ini.”
Tukas Beni mengagetkan
kami bertiga.
“Oya? Ngga terasa
udah setahun ya”
sambungku. “Berarti udah banyak
kenangan yang kita
lalui disini. Pasti bakalan
kangen banget sama
tempat ini.” Lanjutku.
“Maksudnya apa Nin?”
Septi mulai heran
atas ucapanku.
“Sama ngga ngerti,
maksudnya apa?” sambung
Indra.
“Jangan bilang maksudnya ……” Beni tak melanjutkan perkataannya.
“Yaa aku cuma
mau menghabiskan waktu
bareng – bareng disini sama
kalian teman terbaikku, setidaknya
buat terakhir kalinya
sebelum aku pindah
keluar kota. Karena
tempat ini yang
udah buat kita
akrab satu sama
lain dan menjadi
saksi persahabatan kita
setahun ini.” Jelasku dengan
mata berkaca kaca.
“Terakhir kali?
Pindah?” ucap Septi dengan
nada terbata.
“Lusa aku pindah.
Dan mungkin ngga
balik lagi kesini.
Makanya sebelum pergi aku
mau menghabiskan waktu
untuk yang terakhir
kali disini.” Ucapku
menjelaskan kepada Septi
juga yang lainnya.
“Maaf aku ngga
bilang soal ini
sebelumnya ya, tapi
aku janji ngga
akan lupa sama
kalian.” Lanjutku.
“Kita bisa ngerti
kok Nin.” Tukas
Indra.
“Udah di duga.” Tukas
Beni singkat. “Yaudah
kita foto dulu
buat kenang – kenangan.”
Sambung Beni.
“Nah ide bagus
tuh. Untung Beni
bawa laptop hahaha.”
Ucap Septi sambil
melirik Beni.
“Iya berguna kan
ini laptop. Haha nanti
satu fotonya seribu
yak.” Canda Beni.
“Yailahh malah dibisnisin
hasil fotonya.” Gerutu
Septi.
“Suka banget bercanda
ini anak.” Sambarku.
“Udah ayo foto
jangan banyak omong.” Jawab
Beni.
1…2…3… klikkk
***
3 lembar foto
empat anak kecil
dengan wajah polos.
Ada yang letaknya
di samping danau,
kemudian ada yang
diantara pepohonan, dan
yang terakhir ditengah –tengah rumput
ilalang. Peristiwa pengambilan
foto itu masih
teringat jelas seolah
peristiwa itu baru
terjadi kemarin padahal
sudah 7 tahun berlalu. Hmm aku
sangat merindukan moment
tersebut.
“Apa kalian juga
masih mengingatnya?” Tanyaku dalam
hati sambil tersenyum melihat foto – foto
itu.
Tak terasa malam
kian larut. Rasa
kantuk turut menyelimutiku. Kusimpan
kembali foto – foto itu
ke dalam kotak
bersama barang kenangan
lainnya dan segera
tidur.
Selasa, 08 Juli 2014
I LOVE YOU Minwoo
Hai hai...
Rasa bosan yang mulai menghinggapi dalam kegelapan malam yang hanya ditemani oleh terangnya rembulan. Akhirnya gue memutuskan untuk nulis sesuatu disini. Kali ini gue sedikit mau bercerita tentang kegilaan hmm atau mungkin lebih tepatnya kehebohan dan kehisterisan gue sama idola gue.
Yupp. Kalian para pembaca tentunya punya idola. Idola itu sosok yang disukai orang banyak dan idola tiap orang pasti berbeda karena mengidolakan seseorang itu tanpa paksaan. Dari mulai anak kecil sampe orang dewasa, dari kalangan bawah sampe kalangan atas sekalipun, dari orang biasa sampe yang luar biasa pasti semua punya idola masing masing. Gue mau sedikit menceritakan tentang kehisterisan gue akan sosok salah satu boyband asal Korea Selatan. That is a BOYFRIEND!! Lebih spesifiknya sih gue nge fans banget banget sama salah satu member yang namanya No Minwoo. Wajahnya yang imut, ganteng beserta semua bakat dan kepribadiannya lah yang membuat gue amat sangat mengidolakannya. Mau ada artis seganteng apapun atau sebeken apapun gue ga peduli. Rasa tertarik sama artis lainnya ga se fanatik sama Minwoo. Gue sih ga munafik, gue juga punya idola lain selain Minwoo. Tapi seperti yang udah tertulis tadi, ga sefanatik kalo ngomongin soal Minwoo. Minwoo tuh udah kaya magnet yang menarik perhatian serta mengalihkan dunia gue. Cieellah bahkan gue sering terjebak dalam khayalan indah dan mimpi mimpi indah bersama Minwoo. Dunia ini serasa indah kalo tiap kali lagi bete, kesel, marah atau mungkin sedih sekalipun semua lenyap kalo udah liat fotonya, liat videonya dan denger suaranya. OhMyGod. Kayanya ini tulisan ga bakal kelar kalo bahas dia. Memori handphone sampe memori PC dipenuhi oleh Minwoo. Bahkan adek gue sampe ikutan tau tentang Minwoo. Berawal dari baca artikel BB pendatang baru di Korsel tentang Boyfriend beberapa tahun silam, pertama kalinya gue ngerasain bener bener suka sama personil BB korea pada pandangan pertama. Minwoo, gue ga berenti liat fotonya di salah satu majalah yang memuat artikel itu. Yaampun kalo inget awal mulanya tuh rasanya pengen nyeritain semua, tapi pegel ngetiknya. Belum lagi pas tau kalo dia jago dance aaaaaaa meleleh liat videonya. Dari situlah gue niat fangirling-in Minwoo. Dari awal karirnya dari single pertama sampe yang terbaru kemarin bahkan disela sela masa hiatusnya gue tetep setia nungguin Minwoo beserta teman teman BOYFRIEND comeback. Gue cari tau semua fakta tentang Minwoo, tentang identitasnya, kebiasaan baik buruknya semua gue cari tau demi dia seorang. Dari dulu, emang sih ga susah buat gue nyari tau sebuah informasi. Jangankan informasi tentang Artis Idola yang udah tercantum di google, tentang temen gue yang ga tercantum di google aja gue bisa cari tau. Haduh pokoknya buat gue, Minwoo itu sosok idola yang udah mengalihkan dunia gue. Dia adalah sosok idola yang mengajarkan gue tentang arti kesetiaan terhadap suatu idola.
Tapi gue juga sadar, gue ga boleh terlalu terpaku akan khayalan seorang idola karena gue juga punya kehidupan yang ga beda jauh indah luar biasanya dari khayalan indah gue bersama Minwoo. Disini, didunia nyata, gue bersama teman teman gue yang sama spesialnya seperti sang idola. Selalu berusaha hidup sebaik baiknya dan berusaha menyadari tentang indahnya hidup di dunia nyata selain berkhayal tentang idola.
Rasa bosan yang mulai menghinggapi dalam kegelapan malam yang hanya ditemani oleh terangnya rembulan. Akhirnya gue memutuskan untuk nulis sesuatu disini. Kali ini gue sedikit mau bercerita tentang kegilaan hmm atau mungkin lebih tepatnya kehebohan dan kehisterisan gue sama idola gue.
Yupp. Kalian para pembaca tentunya punya idola. Idola itu sosok yang disukai orang banyak dan idola tiap orang pasti berbeda karena mengidolakan seseorang itu tanpa paksaan. Dari mulai anak kecil sampe orang dewasa, dari kalangan bawah sampe kalangan atas sekalipun, dari orang biasa sampe yang luar biasa pasti semua punya idola masing masing. Gue mau sedikit menceritakan tentang kehisterisan gue akan sosok salah satu boyband asal Korea Selatan. That is a BOYFRIEND!! Lebih spesifiknya sih gue nge fans banget banget sama salah satu member yang namanya No Minwoo. Wajahnya yang imut, ganteng beserta semua bakat dan kepribadiannya lah yang membuat gue amat sangat mengidolakannya. Mau ada artis seganteng apapun atau sebeken apapun gue ga peduli. Rasa tertarik sama artis lainnya ga se fanatik sama Minwoo. Gue sih ga munafik, gue juga punya idola lain selain Minwoo. Tapi seperti yang udah tertulis tadi, ga sefanatik kalo ngomongin soal Minwoo. Minwoo tuh udah kaya magnet yang menarik perhatian serta mengalihkan dunia gue. Cieellah bahkan gue sering terjebak dalam khayalan indah dan mimpi mimpi indah bersama Minwoo. Dunia ini serasa indah kalo tiap kali lagi bete, kesel, marah atau mungkin sedih sekalipun semua lenyap kalo udah liat fotonya, liat videonya dan denger suaranya. OhMyGod. Kayanya ini tulisan ga bakal kelar kalo bahas dia. Memori handphone sampe memori PC dipenuhi oleh Minwoo. Bahkan adek gue sampe ikutan tau tentang Minwoo. Berawal dari baca artikel BB pendatang baru di Korsel tentang Boyfriend beberapa tahun silam, pertama kalinya gue ngerasain bener bener suka sama personil BB korea pada pandangan pertama. Minwoo, gue ga berenti liat fotonya di salah satu majalah yang memuat artikel itu. Yaampun kalo inget awal mulanya tuh rasanya pengen nyeritain semua, tapi pegel ngetiknya. Belum lagi pas tau kalo dia jago dance aaaaaaa meleleh liat videonya. Dari situlah gue niat fangirling-in Minwoo. Dari awal karirnya dari single pertama sampe yang terbaru kemarin bahkan disela sela masa hiatusnya gue tetep setia nungguin Minwoo beserta teman teman BOYFRIEND comeback. Gue cari tau semua fakta tentang Minwoo, tentang identitasnya, kebiasaan baik buruknya semua gue cari tau demi dia seorang. Dari dulu, emang sih ga susah buat gue nyari tau sebuah informasi. Jangankan informasi tentang Artis Idola yang udah tercantum di google, tentang temen gue yang ga tercantum di google aja gue bisa cari tau. Haduh pokoknya buat gue, Minwoo itu sosok idola yang udah mengalihkan dunia gue. Dia adalah sosok idola yang mengajarkan gue tentang arti kesetiaan terhadap suatu idola.
Tapi gue juga sadar, gue ga boleh terlalu terpaku akan khayalan seorang idola karena gue juga punya kehidupan yang ga beda jauh indah luar biasanya dari khayalan indah gue bersama Minwoo. Disini, didunia nyata, gue bersama teman teman gue yang sama spesialnya seperti sang idola. Selalu berusaha hidup sebaik baiknya dan berusaha menyadari tentang indahnya hidup di dunia nyata selain berkhayal tentang idola.
Rabu, 25 Juni 2014
Cerita Liburan Singkat
Oke ini pertama kalinya gue memposting artikel real life yang gue alami. Kalo biasanya cuma posting tulisan tulisan yang agak gaje gitu, kali ini gue mencoba untuk bercerita dan mengutarakan perasaan cieelah semacam curhat gitu deh atas kejadian yang gue alami hari ini. Buat kalian kalian yang mungkin aja kenal dan mau ikut nimbrung di komentar silakan aja ya tapi No bash.
Oke selamat membaca ^^
Rabu, 25 Juni 2014
Hari ini...
Berawal dari rencana seorang teman untuk nonton bareng. Gue sih ngga tau udah berapa lama ini direncanain tapi ya gitu belum tentu apa yang kita rencanakan akan terlaksana dengan sempurna. Di dunia ini emang manusia cuma bisa berencana tapi TUHAN yang menentukan, yayaya I know it! Oke lanjut ke cerita lagi. Gue akhirnya minta izin buat nonton bareng temen temen ke orang tua seperti biasa, alhamdulillah dibolehin. Akhirnya gue langsung siap siap berangkat sambil nunggu temen temen jemput.
Langsung skip aja~
Sesampainya disana, sesuai rencana awal, kita bertujuh langsung menuju gedung bioskop. Udah terbayang sih bakal terjadi sesuatu yang kurang mengenakan soalnya ngga bisa dimakan. Dari awal masuk aja udah keliatan antrian pembeli tiket bejibun. Seketika itu juga gue makin ngerasa ngga enak karena kemungkinan ngga kebagian tiket. Ah setelah perwakilan dari kita mesen tiket bener aja, tiket udah pada Sold Out! padahal jam menunjukkan masih jam 1 kurang. Terjadilah dilema diantara kami bertujuh antara mau jadi nonton atau memilih makan dan main dimall. Dan apa yang terjadi saudara saudara, akhirnya setelah melewati percakapan panjangggggggg dan lama, akhirnya rencana nonton pun jadi. Terpaksa kita nunggu jam tayang sore meskipun ya harus ikut ngantri panjang lagi. Ulala tiket udah ditangan tinggal nunggu filmnya mulai. Seketika gue sadar jam masih menunjukkan jam 2 kurang itu tandanya you know that, butuh waktu lama nunggu. Yaudah daripada bosen nunggu dibioskop kita memutuskan untuk turun kebawah dan menuju toko buku. Sebut saja toko *sensor*. Bisa bayangin lah betapa bosannya kita menunggu terlebih gue paling males kalo nunggu. Ngga nyangka kita malah ketemu temen kita, ngga perlu disebut siapa yang jelas kita kenal mereka dan mereka juga kenal kita. Detik demi detik berjalan. Kaki mulai terasa pegal, cacing cacing diperut juga mungkin udah minta jatah. Akhirnya tiba juga film TRANSFORMERS nya mulai, adegan demi adegan berlangsung selama kurang lebih 3 jam, film pun selesai. Gejala setelah nonton pun mulai timbul diantara kami bertujuh. Mulai dari kaku dibagian pinggang, kaki dan mata memerah akibat kelelahan. Gue sendiri sih udah ngalamin gejala itu ditengah pemutaran film. Tadinya gue punya ide mau berdiri aja ngelemesin kaki yang sedari tadi pegel ditengah pemutaran film tapi resikonya bakal ditimpukin penonton lainnya karna ngalangin, padahal jelas jelas itu layar lebar pake banget tapi masih aja bakal disangka ngalangin pandangan. Belum lagi penyakit minus pada mata gue bikin gue ngga terlalu nyaman nonton film karena mata makin cepet kerasa pegel mandangin layarnya terus udah gitu ini kan film 3D. Akhirnya diakhir film gue mulai merasakan kaku pada bagian lutut hingga menyebabkan ngga kuat berdiri apalagi berjalan seperti layaknya orang kram. Begitu keluar dari studio, buru buru gue meriksa handphone yang ada disaku celana. Gue lupa kalo dari tadi ngga meriksa hp sejak di mall. Asiknya ngumpul sama temen bikin lupa sama masalah pribadi untungnya sih ngga lupa ibadah. Mendadak mata melotot pas ngeliat layar handphone yang isinya banyak panggilan tak terjawab dan sms. Halah gue langsung ngga niat megang hp lagi-_-buru buru gue kabarin orang rumah kalo baru selesai nonton dan langsung pulang. Ngga cuma sampe disitu, kita kita juga baru inget kita udah hampir 6 jam di mall dan seketika inget sama tarif parkir. Langsung dah pikiran yang pada bawa motor melayang ke tarif yang bakal dikeluarin abis ini. Sedangkan gue, gue malah shock ketika sampai parkiran motor dan melihat dari kejauhan sosok orang yang ngga asing lagi buat gue. Udah kucek kucek mata buat mastiin kalo itu salah liat tapi sepertinya emang orang itu adalah kerabat gue. Dalam hati gue sih ngga kaget, malah udah kepikiran pasti ke mall buat nonton film yang gue tonton tadi juga secara mereka memang menggemari tontonan itu. Acara mengenali orang pun selesai sampai disitu, gue dan yang lain pun siap ontheway pulang karena hari semakin malam ya meskipun gerimis menyertai perjalanan kami pulang.
Oke sekian cerita yang udah gue alami hari ini, ini ceritaku, mana ceritamu??
Oke selamat membaca ^^
Rabu, 25 Juni 2014
Hari ini...
Berawal dari rencana seorang teman untuk nonton bareng. Gue sih ngga tau udah berapa lama ini direncanain tapi ya gitu belum tentu apa yang kita rencanakan akan terlaksana dengan sempurna. Di dunia ini emang manusia cuma bisa berencana tapi TUHAN yang menentukan, yayaya I know it! Oke lanjut ke cerita lagi. Gue akhirnya minta izin buat nonton bareng temen temen ke orang tua seperti biasa, alhamdulillah dibolehin. Akhirnya gue langsung siap siap berangkat sambil nunggu temen temen jemput.
Langsung skip aja~
Sesampainya disana, sesuai rencana awal, kita bertujuh langsung menuju gedung bioskop. Udah terbayang sih bakal terjadi sesuatu yang kurang mengenakan soalnya ngga bisa dimakan. Dari awal masuk aja udah keliatan antrian pembeli tiket bejibun. Seketika itu juga gue makin ngerasa ngga enak karena kemungkinan ngga kebagian tiket. Ah setelah perwakilan dari kita mesen tiket bener aja, tiket udah pada Sold Out! padahal jam menunjukkan masih jam 1 kurang. Terjadilah dilema diantara kami bertujuh antara mau jadi nonton atau memilih makan dan main dimall. Dan apa yang terjadi saudara saudara, akhirnya setelah melewati percakapan panjangggggggg dan lama, akhirnya rencana nonton pun jadi. Terpaksa kita nunggu jam tayang sore meskipun ya harus ikut ngantri panjang lagi. Ulala tiket udah ditangan tinggal nunggu filmnya mulai. Seketika gue sadar jam masih menunjukkan jam 2 kurang itu tandanya you know that, butuh waktu lama nunggu. Yaudah daripada bosen nunggu dibioskop kita memutuskan untuk turun kebawah dan menuju toko buku. Sebut saja toko *sensor*. Bisa bayangin lah betapa bosannya kita menunggu terlebih gue paling males kalo nunggu. Ngga nyangka kita malah ketemu temen kita, ngga perlu disebut siapa yang jelas kita kenal mereka dan mereka juga kenal kita. Detik demi detik berjalan. Kaki mulai terasa pegal, cacing cacing diperut juga mungkin udah minta jatah. Akhirnya tiba juga film TRANSFORMERS nya mulai, adegan demi adegan berlangsung selama kurang lebih 3 jam, film pun selesai. Gejala setelah nonton pun mulai timbul diantara kami bertujuh. Mulai dari kaku dibagian pinggang, kaki dan mata memerah akibat kelelahan. Gue sendiri sih udah ngalamin gejala itu ditengah pemutaran film. Tadinya gue punya ide mau berdiri aja ngelemesin kaki yang sedari tadi pegel ditengah pemutaran film tapi resikonya bakal ditimpukin penonton lainnya karna ngalangin, padahal jelas jelas itu layar lebar pake banget tapi masih aja bakal disangka ngalangin pandangan. Belum lagi penyakit minus pada mata gue bikin gue ngga terlalu nyaman nonton film karena mata makin cepet kerasa pegel mandangin layarnya terus udah gitu ini kan film 3D. Akhirnya diakhir film gue mulai merasakan kaku pada bagian lutut hingga menyebabkan ngga kuat berdiri apalagi berjalan seperti layaknya orang kram. Begitu keluar dari studio, buru buru gue meriksa handphone yang ada disaku celana. Gue lupa kalo dari tadi ngga meriksa hp sejak di mall. Asiknya ngumpul sama temen bikin lupa sama masalah pribadi untungnya sih ngga lupa ibadah. Mendadak mata melotot pas ngeliat layar handphone yang isinya banyak panggilan tak terjawab dan sms. Halah gue langsung ngga niat megang hp lagi-_-buru buru gue kabarin orang rumah kalo baru selesai nonton dan langsung pulang. Ngga cuma sampe disitu, kita kita juga baru inget kita udah hampir 6 jam di mall dan seketika inget sama tarif parkir. Langsung dah pikiran yang pada bawa motor melayang ke tarif yang bakal dikeluarin abis ini. Sedangkan gue, gue malah shock ketika sampai parkiran motor dan melihat dari kejauhan sosok orang yang ngga asing lagi buat gue. Udah kucek kucek mata buat mastiin kalo itu salah liat tapi sepertinya emang orang itu adalah kerabat gue. Dalam hati gue sih ngga kaget, malah udah kepikiran pasti ke mall buat nonton film yang gue tonton tadi juga secara mereka memang menggemari tontonan itu. Acara mengenali orang pun selesai sampai disitu, gue dan yang lain pun siap ontheway pulang karena hari semakin malam ya meskipun gerimis menyertai perjalanan kami pulang.
Oke sekian cerita yang udah gue alami hari ini, ini ceritaku, mana ceritamu??
Langganan:
Postingan (Atom)























