Oleh : Anindya Rizqi Setyacahyani
Hujan diluar membuat
ku ingin berada
dikamar saja, 10 menit
berselang aku terpaku
pada satu objek
disudut kamar. Tiba – tiba
aku ingin membuka
kembali kenangan yang
telah kusimpan rapih
pada sebuah kotak
berukuran sedang dibawah
meja belajar. Ku
ingat kembali peristiwa
yang terjadi 7
tahun lalu. Masih
kuingat dengan jelas
di otak akan
peristiwa itu.
***
Angin berhembus kencang,
menerpa dua tubuh
mungil yang sedang
berbaring di atas
rumput sambil memejamkan
mata. Suara kicauan
burung kecil turut
terdengar merdu menambah
suasana damai. Cuaca yang
bersahabat seolah alam
mendukung bila aku
harus tetap berada
di tempat ini,
yaa tempat yang
jauh dari keramaian,
tempat yang hanya
aku dan sahabatku
yang tahu. Kesamaan
hobi yang sama
yang membuat kami
berada ditempat ini. Sambil ku
ingat awal kami
menemukan tempat seindah
ini, berawal dari
keisengan aku dan
sahabatku, Septi. Kami
yang sedang berjalan – jalan mengelilingi lingkungan
rumah, kami bertemu
dengan teman sekolah
kami. Beni dan
Indra namanya. Singkat
cerita kami yang
sudah akrab dan
memiliki hobi berpetualang
sepakat untuk berpetualang
bersama. Layaknya backpackers, kami
menyusuri jalan kesana
kemari hingga sampailah
kami pada satu
tempat yang jauh
dari keramaian dan
sangat tenang. Kami
sepakat menjadikan tempat
itu sebagai tempat
persahabatan.
“Udah hampir sebulan
sejak persiapan UKK kita ngga
kesini lagi, kurasa
aku ingin menghabiskan
waktu liburan lebih
banyak disini. Liburan
sekolah juga kurang
seminggu lagi.” ucap
Septi memecah kesunyian.
“Ya aku juga
begitu. Aku sangat
rindu tempat ini.
Rindu menghabiskan waktu
ditempat ini bersama
kalian.” jawabku sambil membuka
mata.
Lama aku dan
Septi terdiam. Sampai
kudengar derap langkah
kaki seseorang mendekat.
Tak lama munculah
dua sosok anak
laki – laki dari kejauhan
sambil menggendong tas.
“Akhirnya
datang juga anaknya.”
celetuk ku.
“Lama deh, lumutan
nih nunggunya.” Septi
bergumam.
“Maaf maaf. Tapi
tenang kita punya
sesuatu buat kalian.”
ucap Beni sambil
membuka tas miliknya.
“Tau, kita kesini
emang telat tapi
kita nggak ngecewain
kalian juga.” susul
Indra.
“Nih oleh –
oleh buat kalian siapa
tau pada kehausan
sama kelaperan nungguin
kita.” Beni menyodorkan
minuman yang dibawanya.
“Nih tadi kita
mampir beli ini
itu buat kalian.
Kita juga mikir
kalo udah disini
pada aus sama
laper mau jajan
kemana.“ Indra menyodorkan
makanan ringan yang
dia bawa. “Makanya
sebelum kesini kita
beli dulu.” sambung
Beni.
“Iya iya makasih
teman – temanku. Kalian baik
sekali.” jawab Septi.
“Kalo jahat mah
udah kita ceburin
ke danau dari
kemarin – kemarin.” sempal Beni. Disusul
tawa Indra.
“Halah danaunya kan cetek. Diceburin
juga ngga bakal
tenggelam.” ketus Septi.
“Lah kan niatnya
cuma buat ngisengin
biar basah, bukan
mau tenggelemin anak
orang.” gumam Indra.
“Udahlah, ini kenapa
malah ributin hal
ngga penting.” Gerutuku.
“Oke oke kita
udah disini semua,
jadi ada apa
kita disuruh ngumpul
kesini?” Indra bertanya – tanya.
“Ya cuma mau
ngumpul bareng lagi
aja. Udah lama
kan kita ngga
kesini, ya nggak
nin.” Jawab Septi
seraya menyenggol tangan
ku menyadarkan dari
lamunanku.
“Eh iya kurang
lebih begitulah. Lagian
anggap aja refreshing
daripada dirumah terus
emang pada ngga
bosen?” ucapku dengan
raut wajah datar.
“Oh kirain ada
apa.” tukas Indra.
Beni sedari tadi
sibuk dengan layar
laptopnya. Entah apa
yang sedang ia
lihat. “Eh eh
hari ini kan
tepat setahun kita
menemukan tempat ini.”
Tukas Beni mengagetkan
kami bertiga.
“Oya? Ngga terasa
udah setahun ya”
sambungku. “Berarti udah banyak
kenangan yang kita
lalui disini. Pasti bakalan
kangen banget sama
tempat ini.” Lanjutku.
“Maksudnya apa Nin?”
Septi mulai heran
atas ucapanku.
“Sama ngga ngerti,
maksudnya apa?” sambung
Indra.
“Jangan bilang maksudnya ……” Beni tak melanjutkan perkataannya.
“Yaa aku cuma
mau menghabiskan waktu
bareng – bareng disini sama
kalian teman terbaikku, setidaknya
buat terakhir kalinya
sebelum aku pindah
keluar kota. Karena
tempat ini yang
udah buat kita
akrab satu sama
lain dan menjadi
saksi persahabatan kita
setahun ini.” Jelasku dengan
mata berkaca kaca.
“Terakhir kali?
Pindah?” ucap Septi dengan
nada terbata.
“Lusa aku pindah.
Dan mungkin ngga
balik lagi kesini.
Makanya sebelum pergi aku
mau menghabiskan waktu
untuk yang terakhir
kali disini.” Ucapku
menjelaskan kepada Septi
juga yang lainnya.
“Maaf aku ngga
bilang soal ini
sebelumnya ya, tapi
aku janji ngga
akan lupa sama
kalian.” Lanjutku.
“Kita bisa ngerti
kok Nin.” Tukas
Indra.
“Udah di duga.” Tukas
Beni singkat. “Yaudah
kita foto dulu
buat kenang – kenangan.”
Sambung Beni.
“Nah ide bagus
tuh. Untung Beni
bawa laptop hahaha.”
Ucap Septi sambil
melirik Beni.
“Iya berguna kan
ini laptop. Haha nanti
satu fotonya seribu
yak.” Canda Beni.
“Yailahh malah dibisnisin
hasil fotonya.” Gerutu
Septi.
“Suka banget bercanda
ini anak.” Sambarku.
“Udah ayo foto
jangan banyak omong.” Jawab
Beni.
1…2…3… klikkk
***
3 lembar foto
empat anak kecil
dengan wajah polos.
Ada yang letaknya
di samping danau,
kemudian ada yang
diantara pepohonan, dan
yang terakhir ditengah –tengah rumput
ilalang. Peristiwa pengambilan
foto itu masih
teringat jelas seolah
peristiwa itu baru
terjadi kemarin padahal
sudah 7 tahun berlalu. Hmm aku
sangat merindukan moment
tersebut.
“Apa kalian juga
masih mengingatnya?” Tanyaku dalam
hati sambil tersenyum melihat foto – foto
itu.
Tak terasa malam
kian larut. Rasa
kantuk turut menyelimutiku. Kusimpan
kembali foto – foto itu
ke dalam kotak
bersama barang kenangan
lainnya dan segera
tidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar